Kota Bukittinggi memiliki banyak bangunan bersejarah yang masih eksis hingga kini dan digunakan untuk berbagai keperluan sesuai fungsinya.
Terdapat bangunan klasik bekas kantor pemerintahan, sekolah kolonial, dan rumah dinas salah satu bank tertua di Indonesia serta gereja katolik yang ikonik.
Bangunan-bangunan tersebut membuat Bukittinggi terasa seperti kota yang sejarahnya masih berjalan bersama kehidupan sehari-hari.
Berada tidak jauh dari kawasan pusat kota, bangunan bersejarah tersebut tentu saja dapat menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik.
Bahkan, pemerintah Kota Bukittinggi sendiri mencatat puluhan bangunan dan situs tersebut sebagai bagian dari kawasan cagar budaya.
Kalau selama ini wisatawan datang ke Bukittinggi hanya untuk melihat Jam Gadang dan wisata kuliner, nah saatnya mencoba sesuatu yang baru, wisata gedung bersejarah.
1. Gedung Negara Tri Arga atau Istana Bung Hatta
Istana Bung Hatta adalah salah satu bangunan bersejarah yang berada sangat dekat dengan kawasan Jam Gadang, bahkan hanya berseberangan jalan.
Nama yang sekarang dikenal masyarakat adalah Gedung Negara Tri Arga, sementara masyarakat lebih sering menyebutnya Istana Bung Hatta.
Bangunan tersebut memiliki hubungan erat dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan Mohammad Hatta.
Namun terdapat satu fakta yang sering terlewat, bahwa bangunan yang berdiri sekarang bukanlah bangunan asli pada masa kolonial.
Bangunan awal pernah digunakan sebagai gedung pertemuan penting dan rumah tamu agung.
Bung Hatta juga pernah menjadikannya tempat persinggahan, bangunan lama tersebut kemudian dibumihanguskan oleh Belanda pada masa Agresi Militer Belanda II pada 1948.
Bangunan saat ini kemudian dibangun kembali pada 1961 oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Saat ini, Gedung Negara Tri Arga tetap menjadi aset pemerintahan dan tempat kegiatan kenegaraan, atau sosial masyarakat sekaligus menjadi salah satu bangunan bersejarah.

2. Gedung SMP Negeri 1 Bukittinggi
Salah satu contoh menarik dari bangunan bersejarah di Bukittinggi adalah Gedung SMP Negeri 1 Bukittinggi yang terletak di Jl. Jend Sudirman No.1
Terdaftar sebagai cagar budaya resmi Kota Bukittinggi yang mencantumkan Gedung SMP I sebagai bangunan cagar budaya kawasan Guguk Panjang.
Arsitekturnya memperlihatkan karakter bangunan masa kolonial, antara lain dinding kokoh, bukaan pintu dan jendela yang berukuran besar.
Saat ini, Gedung tersebut masih digunakan sebagai SMP Negeri 1 Bukittinggi sebagai salah satu sekolah unggulan di Sumatera Barat.
Artinya, siswa yang belajar di sana setiap hari sebenarnya beraktivitas di dalam bangunan yang juga menjadi bagian dari sejarah kota.
Hal ini menjadi satu bentuk pelestarian yang menarik, bahwa bangunan bersejarah tidak selalu harus dikosongkan atau diubah menjadi museum.
Selama fungsi dan kondisi bangunannya memungkinkan, bangunan lama justru dapat terus digunakan untuk kebutuhan masyarakat.
3. Gedung Eks Kantor Depdikbud
Di Jalan Jenderal Sudirman No. 9 terdapat bangunan lama yang juga memiliki  sejarah perjalanan yang cukup panjang dari sisi fungsionalitas.
Bangunan tersebut awalnya digunakan sebagai tempat tinggal Kepala Sekolah Kweekschool.
Namun, setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut mengalami beberapa kali perubahan fungsi.
Beberapa peralihan fungsi seperti menjadi gedung DPRD, Kantor Pajak, Gedung IKIP Bahasa Inggris dan Arab kemudian menjadi kantor bidang pendidikan.
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana satu bangunan dapat mengikuti kebutuhan sebuah kota yang terus berkembang.
Bangunan tersebut kini digunakan sebagai Kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Bukittinggi.
Pemerintah Kota Bukittinggi mencatat bangunan tersebut juga sebagai salah satu cagar budaya yang dikelola secara terpadu.
Gedung yang dahulu berkaitan dengan pendidikan kolonial sekarang kembali digunakan untuk urusan pendidikan dan kepemudaan, dengan fungsi yang relevan.

4. Gedung Eks Bank BNI 46
Bangunan lain yang menarik adalah Gedung Eks Bank BNI 46 yang terletak di Jalan A. Yani No. 128, kawasan Benteng Pasar Atas.
Bangunan ini juga tercatat sebagai salah satu bangunan cagar budaya Kota Bukittinggi yang dirawat secara terpadu.
Dari sisi arsitektur, bangunan tersebut memiliki karakter kolonial dengan dua unit bangunan yang masing-masing mempunyai pintu dan jendela berukuran besar.
Saat ini bangunan tersebut digunakan sebagai kediaman atau rumah dinas bagi kepala Cabang Bank BNI 46 Bukittinggi.
Perubahan seperti ini cukup umum pada bangunan lama, fungsi komersial atau administratifnya berhenti, tetapi struktur bangunannya tetap dipertahankan.

5. Gereja Katolik St. Petrus Klaver
Jika kamu melintas di Jl. Jenderal Sudirman, makan kamu akan melihat satu bangunan ikonik, yaitu gereja katolik St. Petrus Klaver Bukittinggi.
Bangunan gereja tersebut juga tercatat sebagai cagar budaya yang telah ditetapkan melalui SK Nomor 03 Tahun 1998.
Bangunan gereja St. Petrus mempunyai sejarah panjang dan mengalami perubahan akibat kebakaran serta gempa sebelum dibangun kembali dan diresmikan pada 1929.
Saat ini, tentu saja fungsi bangunan sebagai gereja tetap bertahan dan menjadi salah satu gereja yang paling ikonik di Kota Bukittinggi.
Hal ini menjelaskan bahwa pelestarian bangunan bersejarah dapat berjalan bersamaan dengan keberlanjutan fungsi keagamaan.
Bagi wisatawan, tentu penting untuk mengingat bahwa tempat ini bukan sekadar objek wisata sejarah, namun masih digunakan untuk beribadah.
Karena masih aktif digunakan untuk beribadah, pengunjung perlu menjaga ketenangan dan menghormati aktivitas umat.

6. Eks Lembaga Pemasyarakatan Bukittinggi
Tidak semua bangunan lama di Bukittinggi masih aktif digunakan, salah satunya adalah Eks Lembaga Pemasyarakatan Bukittinggi di Jalan Perintis Kemerdekaan.
Bangunan ini pada awalnya berfungsi sebagai penjara pada masa kolonial, yang saat ini tidak dilanjutkan fungsinya sebagai lembaga pemasyarakatan.
Hal ini tentu saja berbeda dengan SMP Negeri 1 atau kantor pemerintahan yang masih aktif, bangunan eks LP telah kehilangan fungsi aslinya.
Karena mengalami kerusakan yang cukup berat maka pemerintah Kota Bukittinggi tidak menggunakan bangunan tersebut untuk fungsi lainnya.
Namun, sebuah kajian arsitektur yang diterbitkan pada 2026 bahkan mengangkat gagasan adaptive reuse untuk Eks Penjara Bukittinggi.
Kajian tersebut melihat bangunan ini memiliki potensi untuk direvitalisasi menjadi ruang baru yang dapat menghidupkan kawasan heritage.
Baca Juga 7 Bangunan Cagar Budaya Bersejarah di Bukitinggi
7. Hotel Centrum
Satu lagi bangunan yang tidak kalah menarik yaitu Hotel Centrum yang berada di Jalan Sudirman No. 75, Kota Bukittinggi.
Dalam daftar cagar budaya Kota Bukittinggi, bangunan ini tercatat dengan keterangan Hotel Centrum (Pos dan Giro).
Nama tersebut menunjukkan adanya perubahan fungsi dalam perjalanan bangunan.
Kini, bangunan hotel tidak lagi menjalankan fungsinya persis seperti pada masa awal keberadaannya karena sudah mengalami kerusakan.
Namun statusnya sebagai bangunan bersejarah tetap menjadikannya bagian dari lanskap heritage Bukittinggi.
Bangunan seperti Hotel Centrum memperlihatkan bahwa kawasan pusat kota dahulu tidak hanya terdiri dari kantor pemerintahan dan fasilitas militer.
Ada pula jaringan perdagangan, jasa, komunikasi, perhotelan, dan transportasi yang membuat kota berkembang sebagai pusat aktivitas masyarakat.
Mengapa Gedung Bersejarah di Bukittinggi Layak dilestarikan?
Kalau diperhatikan, daftar bangunan bersejarah di Bukittinggi memiliki satu pola menarik yaitu banyak bangunan tidak benar-benar “ditinggalkan”.
Terdapat bangunan yang berganti fungsi, beberapa menjalankan fungsi aslinya dan terdapat pula yang sudah tidak digunakan dan menunggu revitalisasi.
Bangunan SMP Negeri 1 masih menjadi sekolah, Kantor bekas Depdikbud kini menjadi kantor pemerintah.
Gereja St. Petrus Klaver tetap menjadi tempat ibadah, Sementara Eks BNI 46 pernah beralih dari kantor bank menjadi rumah dinas.
Kemudian, Eks Penjara Bukittinggi menjadi contoh bangunan yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Kondisi tersebut sebenarnya menggambarkan perjalanan sebuah kota dengan sangat jelas, Bukittinggi jelas tidak membangun sejarahnya dalam satu periode.
Pada masa kolonial, bangunan pemerintahan, militer, sekolah, pasar, tempat ibadah, rumah tinggal, dan fasilitas transportasi dibangun untuk mendukung Fort de Kock.
Setelah Indonesia merdeka, sebagian besar bangunan tersebut kemudian diambil alih, disesuaikan, dan digunakan untuk kebutuhan masyarakat Indonesia.
Jika kamu berkunjung ke Kota Bukittinggi, jangan hanya melihat bangunan lama dari luarnya, namun cari tahu sejarahnya masing-masing.
Sebab di kota ini, perubahan fungsi sebuah gedung justru menjadi bagian dari ceritanya, dan mungkin sebagai daya tarik terbesar wisata sejarah Bukittinggi.
Editor: Nanda Bismar
