Makanan khas Kabupaten Lima Puluh Kota sudah tidak diragukan lagi kelezatanya, bahkan beberapa diantaranya menjadi ikon kuliner Sumatera Barat.
Dengan rempah yang kaya dan autentik semakin memperkuat cita rasa bahkan nilai filosofis sebagai masakan khas Minangkabau.
Daerah ini disebut sebagai “Lima Puluh Kota” karena terdapat 50 nagari yang tersebar di lereng Bukit Barisan, ternyata menyimpan berbagai hidangan tradisional khas.
Hidangan tersebut tentu saja lahir dari kearifan lokal, mulai dari lauk berat hingga camilan ringan khas yang menggugah selera.
Setiap suapan mencerminkan nilai adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, dimana makanan menjadi simbol kebersamaan, kesabaran, dan keramahan tuan rumah kepada tamu.
Jika kamu ingin tahu lebih lanjut, artikel berikut mengupas sembilan makanan khas Lima Puluh Kota yang wajib dicoba traveler, lengkap dengan ciri khas, lokasi ikonik, dan deskripsi mendalam.​
Baca Juga 5 Tempat Makan Legendaris di Kota Payakumbuh
1. Bongko – Sajian Manis untuk Berbuka Puasa
Bongko adalah kue tradisional berbahan tepung beras halus, santan kental, dan daun pandan segar yang disajikan dengan kuah gula merah cair pekat.
Teksturnya lembut kenyal seperti bubur sumsum premium, dengan rasa manis gurih yang harum pandan menyatu sempurna di lidah.
Hidangan ini sangat ikonik terutama pada saat bulan Ramadan di Nagari Harau dan Payakumbuh, sering dijual di pasar malam berbuka oleh ibu-ibu rumah tangga dengan resep yang terjaga.
Proses pembuatannya melibatkan pengukusan adonan hingga mengembang sempurna, mencerminkan kesabaran orang Minang dalam memasak.
Tips: Pilih yang masih hangat agar kuah gula meresap maksimal, nikmati dengan es teh manis untuk sensasi kontras dingin-panas.

2. Gulai Paluik – Gulungan Rempah Ramadan Eksklusif
Gulai Paluik terbilang cukup unik karena hanya muncul di bulan puasa, dengan isian jengkol muda yang empuk, telur rebus utuh, tepung beras, dan parutan kelapa parut halus.
Kemudian semua isian tersebut dibungkus rapat daun kacang tanah atau daun labu siam, yang kemudian direbus lama dalam santan berbumbu kunyit, serai, dan daun salam.
Rasanya gurih pedas dengan aroma daun khas yang meledak di mulut, tekstur gulungannya lembut di luar dan renyah di bagian dalam.
Hidangan ini sangat populer di Kecamatan Buo dan Guguak Malalo, sebagai simbol kreativitas orang Minang dalam memanfaatkan bahan musiman sederhana menjadi masterpiece kuliner.
Disajikan hangat dengan putih ataupun nasi kuning, gulai ini tentu saja menggugah selera setelah seharian berpuasa.

3. Gurami Mudiak – Gulai Ikan Otentik Warisan Kolonial
Gurami Mudiak adalah gulai ikan gurami segar dari hulu sungai yang dimasak santan kental kaya rempah.
Adapun rempah seperti, kunyit segar, lengkuas muda, serai geprek, daun jeruk purut, dan cabai merah yang ditumbuk kasar.
Nama “Mudiak” merupakan nama daerah asal ikan di Nagari Mudiak, Payakumbuh, bahkan hidangan ini telah eksis sejak era Belanda dan Jepang sebagai favorit tuan tanah.
Rasa pedas gurihnya dalam dan berlapis, dengan daging ikan yang meleleh lembut, disajikan bersama daun singkong rebus muda dan sambalado.
Coba dan temukan di Rumah Makan Gurami Mudiak Payakumbuh, dimana aroma santan menguar dari dapur kayu tradisional.
4. Galamai – Dodol Kenyal Khas Payakumbuh
Galamai versi Minang terbuat dari tepung ketan pilihan, gula aren asli, dan santan kental yang diaduk berjam-jam di wajan besar menggunakan bahan bakar kayu hingga halus kenyal.
Setelah matang, warnanya berubah cokelat keemasan menggoda, rasa manis karamel pekat dengan aftertaste santan yang creamy.
Camilan ini banyak dijual sebagai oleh-oleh premium di Pasar Payakumbuh dan pusat oleh-oleh Lima Puluh Kota, galamai juga tahan lama hingga sebulan berkat proses pengeringan alami.
Potong kecil-kecil untuk dinikmati pelan, rasakan tekstur yang lembut di mulut, warisan kuliner yang tidak tergantikan.

5. Pongek Maek – Hidangan Adat Rumit Nan Sakral
Pongek Maek adalah masakan adat dari daun singkong muda cincang halus, nangka muda yang asam segar, dan ikan gurami fillet tebal, ditumpuk berlapis rapi dalam bambu besar.
Kemudian isian tersebut dibungkus dengan daun pisang tebal, lalu dikukus lambat di belanga tanah liat selama 4–6 jam atas api sekam padi.
Citarasanya yang asam manis gurih menyatu harmonis, dengan aroma bambu dan tanah liat yang khas.
Makanan ini semakin berharga karena hanya disajikan acara batagak panghulu atau pernikahan di Nagari Balai Kandiak.
Sehingga cukup sulit ditemui di warung makan, hidangan ini juga dianggap sebagai simbol kesabaran, gotong royong, dan filosofi Minang tentang proses panjang menuju hasil sempurna.
6. Kacang Ganepo – Camilan Renyah Gurih
Kacang tanah goreng kering premium yang dibumbui garam laut, bawang putih bubuk halus, dan daun jeruk, lalu sangrai kering hingga renyah tahan lama tanpa minyak berlebih.
Rasa gurih sederhana namun bikin ketagihan dengan rasa jeruk yang segar ditambah dengan tekstur kriuk yang tidak mudah lembek.
Dijual dalam kemasan rapi di pasar tradisional Payakumbuh, sehingga ideal sebagai teman minum teh tarik panas atau kopi tubruk sembari menikmati pemandangan alam yang indah.
Camilan ini sering menjadi “penutup” acara adat sebagai simbol keramahan dalam kehidupan sehari-hari.

7. Batiah – Kerupuk Beras Ringan Khas 50 Kota
Batiah merupakan camilan kerupuk beras lokal dari beras pulen nagari yang direndam, ditumbuk halus, lalu dikeringkan dengan sinar matahari, yang digoreng kilat mengembang sempurna.
Tekstur ringan kriuk dengan rasa gurih manis samar dari gula aren sedikit, meleleh dengan cepat di mulut.
Favorit camilan anak muda dan keluarga di pinggir Lembah Harau, batiah berbeda dengan kerupuk kebanyakan karena proses fermentasi alami untuk menambah rasa yang dalam.
Kamu bisa membeli batiah yang banyak di jajakan oleh pedagang kaki lima dan biasanya tersedia dalam kemasan dan rasa yang masih maksimal.
8. Randang Talua – Telur Balado Kering Legendaris
Randang Talua merupakan camilan khas Payakumbuh yang telah melegenda dan menjadi favorit banyak orang.
Dibuat dengan telur ayam kampung ataupun telur ayam ras pilihan yang diolah unik menjadi lempengan tipis renyah mirip keripik.
Dimasak dengan bumbu rendang kental pedas hingga benar-benar kering dan gurih menyatu, sehingga menimbulkan sensasi ketagihan.
Hidangan ikonik khas Payakumbuh ini punya tekstur garing di luar tapi lembut di dalam, dan banyak bumbu rendang yang menyelimuti.
Berwarna cokelat keemasan menggoda dengan aroma rempah Minang pekat yang khas, cocok dihidangkan bersama dengan nasi hangat atau ulam segar untuk sensasi autentik nagari.

9. Sate Danguang-Danguang – Sate Legendaris Kuah Kuning dari Nagari Danguang-Danguang
Sate Danguang-Danguang adalah hidangan khas dari Nagari Danguang-Danguang, Kecamatan Guguak Malalo, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Ikon kuliner Payakumbuh yang legendaris sejak puluhan tahun lalu, mampu menyedot banyak orang untuk dating langsung ke Danguang-Danguang.
Dibuat dari potongan besar daging sapi has dalam dan lidah sapi rebus yang ditusuk berseling-seling (2 daging + 2 lidah per tusuk).
Dibakar ringan, lalu disiram kuah kental berwarna kuning segar, dengan rasa kunyit dominan, lengkuas, serai, daun jeruk/kunyit, serundeng sangrai, dan rempah halus.
Rasa gurih manis segar, dengan aroma rempah wangi beda dari sate Padang yang lebih pedas tajam, kemudian kuah creamy menyelimuti daging empuk kenyal tanpa gosong.

Mengapa Kuliner asal Lima Puluh Kota begitu Istimewa?
Kuliner Lima Puluh Kota lahir dari tradisi Minang yang menekankan kebersamaan, seperti Pongek Maek dan Randang Talua yang hanya muncul acara adat besar.
Sementara itu sajian seperti Bongko dan Galamai simbol keramahan tuan rumah yang terkenal dengan citarasa manis legit.
Bahan segar dari sawah hijau, sungai jernih, dan kebun rempah menjamin rasa autentik yang beda dari resto modern Padang, setiap hidangan bercerita tentang perjuangan alam dan adat.
Kabupaten Lima Puluh Kota bukan hanya soal pemandangan alam yang indah, tetapi juga wisata kuliner yang mencerminkan pengalaman budaya Minangkabau.
Cicipi deretan makanan khas tersebut saat road trip Harau–Payakumbuh, lalu dokumentasikan di TikTok/Instagram, dan tambahkan cerita perjalanan kamu di westsumatra360.com.
Selamat menjelajah rasa, urang awak!​
Editor: Nanda Bismar
