Candi Pancahan dan Candi Patani merupakan dua situs candi dengan struktur bata bercorak Hindu-Buddha yang terletak di kawasan pedalaman Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
Keduanya diperkirakan telah esksis sejak abad XII–XIII Masehi dan berkaitan langsung dengan jaringan permukiman serta aktivitas perdagangan di lembah Sungai Rao.
Keberadaan kedua situs tersebut semakin memperkuat bukti bahwa wilayah pedalaman di Sumatra Barat pernah menjadi bagian dari pengembangan keagamaan dan ekonomi.
Tidak hanya berdiri sendiri melainkan juga kemungkinan terhubungn dengan dengan jalur perdagangan regional pada masanya.
Walaupun belum banyak dipublikasi dan dikunjungi oleh umum, namun tetap saja kedua candi tesebut menarik untuk dibahas dan berikut adalah ulasan selengkapnya.
Candi Pancahan
Candi Pancahan berada di Jorong Pancahan, Nagari Taruang Taruang (sering juga disebut Lansek Kadok/Pancahan), Kecamatan Rao atau Rao Selatan, Kabupaten Pasaman.
Secara geografis, situs Candi terletak di kawasan lembah dan perbukitan kaki Pegunungan Bukit Barisan, tidak jauh dari aliran sungai-sungai kecil yang bermuara ke sistem Batang Sumpur.
Lokasinya berada di tengah area perkebunan Masyarakat setempat, sehingga akses menuju situs masih relatif terbatas dan belum sepenuhnya tertata sebagai destinasi wisata umum.
Bagi kamu yang ingin berkunjung ke Candi Pancahan, perjalanan kamu dapat dimulai dari Lubuk Sikaping menuju arah utara ke kawasan Rao.
Setibanya di Nagari Taruang Taruang atau Lansek Kadok, pengunjung dapat mencari petunjuk menuju Jorong Pancahan.
Karena papan penunjuk masih minim, penggunaan aplikasi peta digital dengan kata kunci “Candi Pancahan Pasaman” serta konfirmasi kepada warga setempat dapat sangat membantu.
Penemuan Awal Candi Pancahan
Keberadaan Candi Pancahan pertama kali diketahui pada awal 1990-an ketika situs ini masih berupa gundukan tanah (munggu) di kebun masyarakat.
Pada tahun 1992, tim arkeologi dari Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Batusangkar melakukan ekskavasi penyelamatan dan menemukan struktur bata candi.
Hasil penggalian memperlihatkan adanya dua bangunan candi, yaitu candi induk dan candi perwara, yang saling berhadapan dan dikelilingi parit, membentuk sebuah halaman suci kecil.
Secara arsitektural, kedua struktur tersebut berdenah persegi atau persegi panjang dan dibangun dari bata merah.
Candi Pancahan I sebagai candi induk diperkirakan berukuran sekitar 6 Ă— 5 meter, sementara Candi Pancahan II berfungsi sebagai candi pendamping.
Saat ini, bagian yang masih terlihat jelas adalah bagian kaki dan lantai candi, sedangkan tubuh dan atap bangunan telah hilang.
Berdasarkan rekonstruksi arkeologis, bentuk aslinya diduga berupa candi bata kecil yang berorientasi ke satu arah, kemungkinan timur, dengan tangga pendek di sisi hadap.
Dalam sejarahnya, posisi Candi Pancahan yang berada di lembah sungai menunjukkan bahwa situs ini kemungkinan berfungsi sebagai kompleks pemujaan, sekaligus penanda pemukiman.
Selain itu, terdapat juga temuan fragmen keramik asing dari Dinasti Sung Selatan hingga Yuan di kawasan Rao.
Hal tesebur tentu saja mengindikasikan bahwa wilayah ini pernah terhubung dengan jaringan perdagangan internasional melalui jalur sungai yang bermuara ke pesisir timur Sumatra.
Kondisi Candi Pancahan saat ini tergolong memprihatinkan, dan kurang terawat dengan struktur kaki candi yang tersisa relatif rendah, terlihat banyak bata yang telah runtuh atau tertimbun.
Situs ini belum tertata sebaik situs lain di kawasan Rao dan masih dikelilingi lahan Perkebunan, sehingga kunjungan umum memerlukan berjalan kaki melewati kebun dan parit kecil.
Baca Juga Kembali ke Masa Lampau di Situs Candi Padang Roco
Candi Patani
Candi Patani terletak di Jorong IV Beringin, Nagari Lansek Kadok, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman.
Sama dengan candi Pancahan, situs ini juga berada di tengah area perkebunan masyarakat dan sebelumnya hanya dikenal sebagai salah satu gundukan tanah tanpa identifikasi khusus.
Identifikasi awal sebagai situs arkeologi dilakukan oleh tim Pusat Arkeologi Nasional pada Mei 2013 dalam penelitian kawasan Rao.
Ekskavasi yang dilakukan pada tahun tersebut menemukan struktur bata yang merupakan sisa bagian kaki candi.
Hasilnya adalah terlihat denah bangunan berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 6 Ă— 6 meter, dengan orientasi sedikit menyimpang ke barat sekitar 10 derajat.
Berbeda dari orientasi timur yang umum pada banyak candi Nusantara, tetapi masih dalam variasi yang wajar untuk bangunan masa klasik.
Seperti halnya Candi Pancahan, bagian tubuh dan atap Candi Patani sudah tidak tersisa, hanya Sebagian kecil bagian kaki yang bisa di eskavasi.
Berdasarkan sisa struktur yang ada, candi ini direkonstruksi sebagai candi bata tunggal berukuran kecil.
Kemungkinan memiliki satu ruang pemujaan di atas kaki bangunan dengan tangga pendek di sisi hadap sesuai orientasinya.
Tidak adanya bagian superstruktur membuat detail bentuk atap hanya dapat diasumsikan mengikuti tradisi arsitektur candi bata Sumatra abad XII–XIII Masehi.
Kedudukan Candi Patani juga mirip dengan candi Pancahan yaitu berada di jalur kebun dan dekat sistem aliran sungai kecil di lereng Bukit Barisan.
Memperkuat dugaan bahwa situs ini merupakan bagian dari lanskap keagamaan Hindu–Buddha yang terhubung dengan permukiman dan jalur transportasi lokal.
Dalam kajian kawasan Rao secara lebih luas, temuan fragmen keramik asing dari periode Sung Selatan hingga Yuan juga digunakan untuk memperkuat kronologi abad XII–XIII Masehi.
Candi Patani Saat ini
Saat ini, Candi Patani tampak sebagai pondasi bata persegi rendah tanpa bangunan pelindung ataupun atap yang menaungi.
Lingkungannya masih sangat alami dengan beberapa gundukan tanah lain di sekitarnya telah rusak atau hampir rata.
Situs ini belum dikembangkan sebagai objek wisata penuh dan umumnya dikunjungi untuk kepentingan penelitian atau wisata minat khusus.
Tidak banyak hal yang bisa di eskavasi mengakibatkan Candi Pancahan dan Candi Patani mungkin tidak menjulang megah seperti candi-candi besar di Jawa.
Namun, justru dalam kesunyian dan kesederhanaan bangunan menyimpan kisah penting tentang kepercayaan, perdagangan, dan kehidupan masa lalu di lembah Rao.
Bata-bata yang tersisa menjadi saksi bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari jejaring peradaban yang luas.
Menjaga dan mengenali situs-situs kecil seperti candi tersebut diatas berarti merawat ingatan kolektif tentang identitas dan perjalanan sejarah Sumatra Barat.
Editor: Nanda Bismar
