Wisata megalit bisa menjadi salah satu alternatif menarik ketika berkunjung ke Kabupaten Tanah Datar di Sumatera Barat.
Di Kawasan ini kamu bisa menemukan beberapa situs kuno yang seakan menjadi saksi bisu sejarah masa lampau yang masih tersisa hingga masa sekarang.
Khususnya tiga situs kuno yang menjadi awal mula peradaban Minangkabau dari era megalitik hingga Kerajaan Pagaruyung.
Mulai dari Prasasti Saruaso yang mencatat sistem irigasi canggih Adityawarman sekitar tahun 1375 M, kemudian situs Batu Batikam yang diyakini sebagai simbol musyawarah adat.
Kemudian terdapat juga Situs Megalit Simawang yang unik sebagai menhir berubah nisan Islam, dimana ketiganya tentu saja menawarkan pengalaman wisata sejarah yang autentik.
Jika kamu berencana berkunjung ke Tanah Datar dan tertarik untuk menjelajahi wisata megalit tersebut, berikut adalah ulasan lengkapnya.
Sejarah Singkat Situs Kuno Tanah Datar
Kabupaten Tanah Datar dengan ibu Kota Batusangkar menjadi salah satu pusat dari denyut nadi budaya Minangangkabau di Sumatera Barat.
Selain keberadaan Istano Basa Pagaruyuang, juga terdapat beberapa peninggalan megalit yang sampai saat ini masih terawat.
Ketiga situs tersebut tersebar di nagari-nagari strategis, mudah dijangkau dari Padang (sekitar 90 km) atau Payakumbuh, jadi sangat ideal untuk rute wisata satu hari.
Dengan melihat langsung keberadaan megalit di lokasinya maka pengunjung bisa merasakan transisi budaya dari Neolitikum prasejarah, Hindu-Buddha Melayu Kuno.
Bahkan hingga masuknya ajaran agama Islam yang menyatu harmonis dalam adat basandi syarak.
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar juga aktif menjaga situs-situs tersebut, walaupun tantangan pelestarian tetap ada, seperti salah satunya iklim tropis.
Berikut adalah ulasan lebih lengkap tentang tiga situs megalit yang wajib kamu kunjungi jika berkunjung ke Tanah Datar.
1. Prasasti Saruaso: Jejak Irigasi Raja Adityawarman Tahun 1375 M
Prasasti Saruaso, juga dikenal sebagai Prasasti Saruaso I, berdiri megah di Nagari Suruaso, Kecamatan Tanah Datar, sebagai bukti kejeniusan teknik irigasi Kerajaan Melayu.
Ditempa sekitar tahun 1375 Masehi, batu prasasti ini berukuran 140×70 cm dengan aksara dan bahasa Melayu Kuno.
Menceritakan pembebasan tanah untuk taman Nandana Sri Surawasa serta pembangunan saluran irigasi guna mendukung pertanian sawah.
Isinya memuji Adityawarman sebagai pewaris Akarendrawarman (pamannya), mengikuti adat Minang pewarisan mamak ke kamanakan, sistem matrilineal unik yang masih lestari hingga kini.
Lokasi tepatnya berada di pinggiran sawah hijau membentang, dilingkupi atap limasan Minang modern untuk perlindungan, sekitar 15 km dari Batusangkar via Jalan Lintas Sumatera.
Begitu tiba di lokasi maka pengunjung disambut pemandangan irigasi kuno yang masih berfungsi, membuktikan ketahanan teknologi abad ke-14 terhadap banjir musiman.
Makna budaya yang sarat akan nilai karena prasasti ini bukan sekadar monumen, tapi dokumen ekonomi yang tunjukkan perhatian raja pada kesejahteraan rakyat.
Namun sekaligus juga kontras dengan citra raja perang Adityawarman di prasasti lainnya seperti Padang Roco.
Waktu berkunjung terbaik ketika pagi hari, laluambillah foto dari sudut sawah untuk konten yang Instagramable, lalu mendengar cerita Masyarakat tentang ritual tabasuh yang terkait situs ini.

2. Batu Batikam: Batu Berlubang Saksi Musyawarah Mufakat Minangkabau
Batu Batikam, disebut sebagai ikon perdamaian adat, terletak di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kecamatan IV Angkat Lubuh, hanya 10 menit berkendara dari pusat Batusangkar.
Batu jenis andesit hitam tersebut memiliki ukuran tinggi 55 cm, 20 cm lebar, dan 40 cm tebal, dengan lubang tembus diameter 4 cm yang menjadi pusat legenda.
Menurut legenda di Minangkabau, lubang yang tercipta merupakan bekas tusukan keris Datuak Parpatiah Nan Sabatang (pendiri Koto Piliang, sistem hierarkis).
Dan Datuak Katumanggungan (pendiri Bodi Caniago, sistem demokratis) untuk mengikat janji damai.
Hal tersebut dilakykan dalam rangka menyatukan dua aliran pemerintahan adat yang sempat bertikai.​
Situs seluas 1.800 m² ini dikelilingi 14 batu kursi mirip dengan arena musyawarah, lalu berdiri pohon beringin tua sebagai tempat syariat, dan relief burung hong (kendaraan Adityawarman).
Akses mudah via jalan raya utama, parkir gratis, dan tiket masuk Rp. 5.000/orang, cocok untuk tur keluarga atau konten media sosial tentang adat budaya Minangkabau.
Secara historis, batu tersebut diperkirakan telah ada sejak abad ke-14 M, terkait era Pagaruyung, dan sering jadi tempat musyawarah nagari hingga kini.
Bagi wisatawan, melihat batu batikam bisa menjadi pelajaran hidup tentang mufakat, lalu cobalah dengan masukkan tangan ke lubang batu untuk merasakan energi  harmonisasi.

3. Situs Megalit Simawang: Menhir Megalit yang Jadi Nisan Islam Abad ke-18
Situs Megalit Simawang di Nagari Simawang, merupakan permata tersembunyi sejauh 25 km arah utara Batusangkar, di puncak bukit dengan panorama Gunung Marapi dan Danau Singkarak.
Kompleks seluas 2.550 m² tersebut punya belasan menhir andesit dengan struktur pahat kasar, tanpa ukiran, tinggi 1-2 meter, menghadap selatan sebagai penanda ritual megalitik prasejarah.
Uniknya, menhir-menhir tersebut ternyata diadaptasi pada abad ke-18 sebagai nisan Islam untuk 30 makam ulama dan tokoh nagari.
Hal tersebut menjadi bukti akulturasi budaya megalitik dengan ajaran Islam yang kala itu masuk via pedagang dari Gujarat.
Melihat urgensi dan nilai situs kuno, maka pemerintah menetapkan sebagai cagar budaya nasional pada tahun 2010 sesuai SK Menbudparpostel No. PM.05/PW.007/MKP/2010.
Saat ini situs telah dikelola Dinas Pariwisata Tanah Datar walaupun kondisinya agak terbengkalai, seperti pohon tanaman merambat dan akses tanjakan yang curam.
Memiliki nilai filosofis yang bersejarah, menhir menjadi simbol keabadian roh leluhur yang kini bertemu nisan dengan kaligrafi Arab sederhana, mewakili sinkretisme Minangkabau.
Wisatawan dengan tools fotografi seperti drone, sapat mengambil foto saat senja dating, namun tetap menghormati makam dengan tidak menginjak area pengapian.
Potensi eco-tourism yang tinggi jika direvitalisasi, lalu dapat kombinasikan dengan air terjun Simawang Alahan Panjang.​
Baca Juga Prasasti Kuburajo: Menelusuri Jejak Kejayaan Adityawarman di Tanah Datar
Rute Wisata dan Tips Praktis Kunjungi 3 Situs Kuno
Kamu dapat memulai perjalanan dari Batusangkar, dengan rute awal di Prasasti Suruaso (pagi), lalu Batu Batikam (siang), Situs Simawang (sore), dengan jarak tempuh total 60 km pulang pergi.
Musim terbaik April-Oktober (kering), bawa air minum, topi, dan obat nyamuk, lalu pastika menggunakan sepatu atau alas kaki yang nyaman terutama saat musim hujan.
Tentu saja kamu dapat mendukung ekonomi lokal dengan membeli kerajinan pandai khas Batusangkar atau makan rendang di warung makan setempat.
Mengapa Situs Kuno Tanah Datar Wajib Masuk Bucket List Wisata Sumatera Barat?
Ketiga situs diatas bukan hanya batu dan prasasti, tapi narasi hidup awal orang Minangkabau, dengan nilai sejarah seperti inovasi irigasi, musyawarah damai, dan akulturasi agama.
Ketiga situs tersebut memperkuat identitas Tanah Datar sebagai “Bumi Pagaruyung”, yang dapat menarik wisatawan mancanegara pencinta UNESCO-heritage serupa Candi Borobudur.
Jelajahi 3 situs kuno Tanah Datar sekarang juga melalui westsumatra360.com dan jadilah bagian dari pelestarian warisan Minangkabau yang abadi.
Bagikan pengalaman kamu di media sosial untuk menginspirasi traveler lainnya, sambil mendukung ekonomi lokal dan keberlanjutan budaya Minangkabau.
Editor: Nanda Bismar
