Penutup kepala merupakan salah satu elemen penting dalam busana adat di Minangkabau, bukan hanya sekedar penutup kepala, namun juga sarat akan nilai dan makna filosofis.
Mulai dari deta yang melambangkan kewibawaan seorang laki-laki, hingga tingkuluak tanduak dan suntiang gadang yang menjadi mahkota perempuan Minang.
Lebih dalam lagi, aksesoris kepala ini bukan hanya pelengkap busana, tetapi juga penanda status sosial, identitas nagari, serta nilai filosofis adat Minangkabau:
Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Penutup kepala tradisional di Sumatera Barat (Minangkabau) juga sangat beragam, baik untuk laki-laki maupun Perempuan.
Penasaran apa saja bentuk dan jenis penutup kepala tradisional di Minangkabau? Berikut adalah ulasan lengkapnya dari West Sumatra 360,
Fungsi penutup kepala Minang
Penutup kepala atau hiasan kepala dalam budaya Minangkabau memiliki beberapa fungsi utama, sebagai berikut:
- Sebagai pelengkap pakaian adat dalam upacara pernikahan (anak daro–marapulai), batagak panghulu, alek nagari, dan acara resmi adat lainnya.
- Sebagai penanda status sosial seseorang dalam adat, peran, dan kehormatan; misalnya deta/saluak untuk penghulu, serta berbagai jenis tingkuluak dan suntiang untuk perempuan yang telah menikah atau sedang menjadi pengantin.
- Menjadi simbol nilai filosofis seperti kebijaksanaan, kehati-hatian, dan beratnya amanah yang dipikul, misalnya kerutan pada deta dan lapisan pada suntiang.
Penutup kepala laki-laki Minangkabau
Berikut beberapa jenis penutup kepala khas laki-laki di Sumatera Barat:
1. Deta / Destar
- Deta adalah kain penutup kepala berwarna gelap (umumnya hitam) yang dililit hingga membentuk kerutan di dahi.
- Kerutan tersebut dimaknai sebagai pertanda bahwa seorang lelaki (terutama tetua/panghulu) harus berfikir matang dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
2. Deta Gadang / Saluak Batimbo (penutup kepala panghulu)
- Untuk seorang panghulu, dipakaikan deta berukuran besar yang dikenal sebagai deta gadang atau saluak batimbo, dengan model lilitan dan kerutan khas di bagian kening.
- Deta jenis ini biasanya dikenakan dalam upacara batagak panghulu dan acara adat besar sebagai lambang kebesaran, kewibawaan, dan tanggung jawab seorang pemimpin suku.

3. Saluak (Saluak batimbo, saluak dari songket)
- Saluak batimbo sering disebut sebagai penutup kepala dari bahan songket yang digunakan bersama pakaian adat penghulu Minang.
- Bentuk dan cara melilit saluak dapat berbeda antar nagari, sehingga juga menjadi penanda asal daerah pemakainya.
4. Deta Ameh (khusus marapulai Koto Gadang)
- Di Koto Gadang, mempelai pria (baju marapulai / baju gadang deta ameh) memakai penutup kepala berupa lilitan kain berlapis emas yang disebut deta ameh.
- Deta ameh berbentuk gulungan melingkar dengan simpul di satu sisi, menonjolkan status istimewa marapulai pada hari pernikahan.

Penutup kepala perempuan: Tingkuluak
Istilah umum penutup kepala perempuan Minangkabau adalah tikuluak/tingkuluak, dengan banyak variasi menurut daerah dan konteks pemakaian, beberapa di antaranya adalah:
1. Tingkuluak Tanduak (Tengkuluk Tanduak)
- Tingkuluak tanduak merupakan penutup kepala berbentuk menyerupai tanduk kerbau, yang dibuat dari kain tenun tebal (sering balapak) dan menjadi ikon Bundo Kanduang.
- Bentuk tanduk kerbau dihubungkan dengan simbol rumah gadang dan juga kerja keras perempuan Minang dalam memikul tanggung jawab adat dan keluarga.

2. Tingkuluak Balapak
- Terbuat dari kain balapak (songket balapak) dengan hiasan benang emas, banyak dipakai dalam busana adat resmi dan upacara adat tertentu.
- Motif dan susunan lipatan tingkuluak balapak dapat menunjukkan nagari atau kelompok asal pemakainya.
Baca Juga 5 Tradisi Pernikahan Setelah Akad Nikah di Minangkabau
3. Tingkuluak Balenggek
- Jenis tingkuluak dengan bentuk bertingkat seperti “berundak”, sangat populer di beberapa daerah Minang sebagai variasi penutup kepala perempuan dewasa.
- Biasanya dikenakan pada saat acara adat atau pesta nagari, melengkapi baju kuruang dan kain sarung balapak.
4. Tingkuluak Sapik Udang
- Penutup kepala dengan bentuk lipatan menyerupai “sapik udang” (lipatan tajam di bagian sisi), cukup popler di sebagian nagari Minangkabau.
- Kemudian juga kerap dikenakan oleh perempuan yang sudah menikah dalam kegiatan adat, sebagai tanda kedewasaan dan status pernikahan.
5. Tingkuluak Talakuang / Tingkuluak Talakuang (mirip mukena)
- Dalam beberapa pakaian pengantin Minang, pengantin perempuan mengenakan tingkuluak talakuang yang bentuknya menyerupai mukena yang menutup kepala dan bahu.
- Penutup kepala ini memberi kesan anggun dan religius, umum dipakai pada variasi busana pengantin yang lebih tertutup.

Suntiang dan hiasan kepala pengantin perempuan
Dalam pernikahan yang digelar secara adat di Minangkabau, maka perempuan Minang mengenakan hiasan kepala khusus yang sangat menonjol:
1. Suntiang (umum)
- Suntiang merupakan perhiasan kepala bertingkat berbentuk setengah lingkaran, berwarna keemasan, terdiri dari ornamen flora dan fauna (mawar, pisang, kupu-kupu, ikan, burung merak, dll).
- Mengenakan suntiang juga melambangkan beratnya tanggung jawab seorang perempuan setelah menikah dan keluhuran martabat anak daro.

2. Suntiang Gadang
- Suntiang gadang adalah suntiang berukuran besar yang dipakai khusus oleh pengantin perempuan pada hari pernikahan.
- Tingkat kembang goyang Suntiang umumnya berjumlah ganjil (7–11 tingkat), dengan susunan lapisan seperti bungo sarunai di bagian dasar, menunjukkan kebesaran dan kemegahan alek pernikahan.
3. Suntiang Ketek / Suntiang Kecil
- Suntiang ketek dipakai oleh pendamping pengantin (pasumandan) atau penari dalam pertunjukan tari Minang, ukurannya lebih kecil dari suntiang gadang.
- Walau lebih kecil, makna filosofisnya tetap terkait keindahan, kesopanan, dan peran perempuan dalam menjaga harmoni adat.

4. Kote-kote dan Lanca (hiasan tambahan)
- Selain suntiang, terdapat perhiasan tambahan seperti kote-kote, yaitu hiasan yang menjuntai di kanan–kiri kepala, dan lanca yang dikenakan di dahi, bentuknya mirip kalung.
- Kedua hiasan ini memperkaya tampilan kepala pengantin, menambah kesan mewah dan seimbang dalam komposisi suntiang Minang.
Ragam dan konteks pemakaian
Menarik sekali bukan ulasan mengenai penutup kepala di Minangkabau, berbagai penutup kepala dan hiasan kepala tersebut tentu saja muncul dalam konteks yang berbeda-beda di Sumatera Barat, seperti:
- Deta, saluak, dan variannya dipakai oleh laki-laki pada saat acara adat, khususnya batagak panghulu, pertemuan adat, dan pesta pernikahan sebagai marapulai.
- Tingkuluak (tanduak, balapak, balenggek, sapik udang, talakuang) serta suntiang (gadang dan ketek) mendominasi penampilan perempuan Minang, terutama Bundo Kanduang, perempuan menikah, dan anak daro di hari pernikahan.
- Gaya lipatan, ukuran, bahan (balapak, songket, kain tenun tebal), dan tambahan ornamen pada penutup kepala sering menjadi penanda nagari, status sosial, serta besar-kecilnya suatu alek adat.
Dengan memahami ragam penutup kepala adat Minangkabau seperti deta, tingkuluak, dan suntiang, kita dapat lebih menghargai keragaman dan filosofi adat di masing-masing daerah.
Kunjungi website westsumatra360.com untuk eksplorasi lengkap destinasi budaya, dan bagikan pengalaman kamu saat melihat langsung ikon-ikon adat yang tesebar ranah Minang.
Editor: Nanda Bismar
