Batik Cantiang Asasi dan Eikora Ecoprint menjadi salah satu ikon karya ramah lingkungan yang tetap mengedepankan aspek keindahan dan kualitas karya.
Hal tersebut selaras dengan kesadaran masyarakat, terutama pelaku ekonomi kreatif terhadap produk ramah lingkungan yang bernilai.
Walaupun memiliki teknik yang berbeda, keduanya memiliki visi yang sama, yaitu menghadirkan produk wastra yang memanfaatkan bahan alami ramah lingkungan.
Menariknya, dibalik Batik Cantiang Asasi dan Eikora Ecoprint terdapat dua orang sosok perempuan hebat yaitu Rhesty dan Dila.
Kedua perempuan kreatif itu tidak hanya membangun binis ramah lingkungan namun juga berupaya memperkenalkan pada masyarakat tentang nilai ekonomi yang berasal dari alam.
Kini, keduanya juga berkolaborasi membangun sebuah ruang kreatif bernama Kelana Healing Space.
Sebuah tempat yang menjadi wadah berkumpul, belajar, dan mengenal lebih dekat berbagai aktivitas kreatif yang berhubungan dengan seni, budaya, serta alam.
Mengenal Ecoprint, Seni Membatik dengan Jejak Alam
Dalam beberapa tahun terakhir, ecoprint semakin populer di Indonesia, termasuk salah satunya ecoprint dengan memanfaatkan bentuk asli daun.
Berbeda dengan batik konvensional yang menggunakan canting dan malam, ecoprint memanfaatkan sumber daya alam berupa dedaunan.
Eikora Ecoprint yang dirintis oleh Dila sejak tahun 2022 sekaligus menjadi salah satu pelaku usaha yang mengembangkan teknik ini di Padang Panjang.
Menariknya, seluruh proses yang dilakukan mengedepankan penggunaan bahan alami.
Mulai dari pewarna, hingga motif yang tercetak di atas kain berasal dari alam yang berarti sangat ramah lingkungan.
Tidak terdapat penggunaan motif buatan atau cetakan pabrik, setiap pola yang muncul merupakan hasil langsung dari bentuk daun yang ditempelkan pada kain.
Beberapa jenis daun yang sering digunakan antara lain adalah daun jambu biji, daun ceri, hingga berbagai jenis daun yang tumbuh liar lainnya.
Bagi sebagian orang, mungkin terlihat biasa saja, namun ditangan para perajin ecoprint, daun-daun tersebut berubah menjadi karya seni bernilai tinggi.
Keunikan ecoprint terletak pada hasil akhirnya yang tidak pernah benar-benar sama pada setiap pola yang dihasilkan.
Setiap helai daun memiliki karakter berbeda sehingga setiap produk menjadi eksklusif dan tidak dapat diduplikasi secara identik.

Proses Pengerjaan yang Membutuhkan Kesabaran
Dibalik keindahan motif ecoprint, terdapat proses panjang yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Untuk menghasilkan satu produk ecoprint berkualitas, waktu pengerjaan biasanya membutuhkan sekitar 7 hingga 10 hari.
Rentang waktu tersebut digunakan untuk berbagai tahapan, mulai dari persiapan kain, pengolahan bahan, penataan daun, proses pengukusan, hingga finishing.
Karena seluruh proses dilakukan menggunakan bahan alami, hasil yang diperoleh tidak bisa dipaksakan seperti produksi tekstil pabrikan.
Setiap tahapan harus menyesuaikan kondisi bahan dan cuaca agar motif yang dihasilkan dapat tercetak dengan sempurna.
Namun, justru prosesnya membuat semakin istimewa, produk ecoprint bukan sekadar kain, melainkan karya yang lahir kreativitas manusia dan proses alam.
Harga Terjangkau untuk Karya Bernilai Seni
Walaupun proses pengerjaannya memerlukan waktu cukup lama, produk ecoprint dari Eikora tetap hadir dengan harga yang relatif terjangkau.
Untuk produk ecoprint, harga umumnya berada pada kisaran Rp. 150 ribuan tergantung jenis dan ukuran produk.
Sementara itu, beberapa produk lainnya juga tersedia dengan harga yang ramah di kantong, seperti:
- Selendang ecoprint mulai dari Rp. 50 ribu
- Deta ecoprint sekitar Rp. 150 ribu
Dengan harga tersebut, konsumen tidak hanya membeli sebuah produk fesyen, tetapi juga mendukung praktik produksi yang lebih ramah lingkungan.

Batik Cantiang Asasi, Menjaga Tradisi dengan Sentuhan Alam
Jika Eikora mengusung teknik ecoprint, Batik Cantiang Asasi hadir sebagai pelestari seni batik yang tetap berakar pada tradisi.
Usaha yang dirintis oleh Rhesty sejak tahun 2019 ini mengembangkan dua jenis teknik, yaitu batik tulis dan batik cap.
Nama “Asasi” sendiri diambil dari sebuah masjid di Padang Panjang yang memiliki nilai sejarah penting bagi keluarga Rhesty.
Masjid Asasi juga salah satu bangunan bersejarah yang memiliki keterikatan dengan keluarganya.
kemudian dari sisi latar belakang pendidikan, Rhesty merupakan seorang lulusan Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Negeri Padang (UNP).
Latar belakang pendidikan tersebut juga turut membentuk kecintaannya terhadap budaya dan identitas lokal yang kemudian diwujudkan melalui karya batik.
Pewarna Alami dari Kulit Jengkol
Salah satu hal yang membuat Batik Cantiang Asasi berbeda adalah penggunaan pewarna alami.
Jika sebagian besar masyarakat mengenal kulit jengkol sebagai limbah dapur, Rhesty justru melihat potensi besar yang dapat dikembangkan.
Kulit jengkol dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami untuk menghasilkan warna-warna khas pada kain batik.
Teknik ini tidak hanya membantu mengurangi limbah organik, tetapi juga menghasilkan warna yang lebih alami dan unik.
Penggunaan bahan alami dalam proses pewarnaan juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus memperkenalkan alternatif yang lebih berkelanjutan.
Melalui pendekatan tersebut, Batik Cantiang Asasi membuktikan bahwa inovasi dapat lahir dari bahan-bahan yang sering dianggap tidak bernilai.
Baca Juga 5 Brand Fashion Lokal Asal Sumatra Barat yang Wajib Kamu Tahu
Produk Batik dengan Nilai Seni Tinggi
Sebagai produk yang dikerjakan secara manual, batik dari Cantiang Asasi memiliki nilai seni yang tinggi.
Harga kain batik berada pada kisaran Rp. 400 ribuan, menyesuaikan tingkat kerumitan motif dan proses pengerjaan.
Selain kain batik, tersedia pula berbagai produk turunan seperti:
- Deta batik sekitar Rp. 150 ribu
- Beragam aksesori dan produk fesyen berbasis batik seperti jaket dan kemeja.
Setiap motif yang dihasilkan mengandung unsur budaya lokal dan sentuhan khas yang menjadikannya berbeda dari produk massal.
Bagi para pecinta wastra Nusantara, produk-produk tersebut dapat menjadi pilihan menarik karena menggabungkan nilai budaya, seni, dan ekonomi keberlanjutan.
Ruang Kreativitas dan Alam pada Kelana Healing Space
Walaupun memiliki dua produk yang berbeda, perjalanan Rhesty dan Dila tidak hanya fokus pada bisnis masing-masing.
Saat ini, keduanya bersama-sama membangun Kelana Healing Space, sebuah ruang kreatif yang menjadi tempat bertemunya seni, budaya, alam, dan komunitas.
Konsep yang diusung tidak hanya berfokus pada penjualan produk, tetapi juga memberikan pengalaman belajar kepada masyarakat.
Melalui berbagai kegiatan workshop, hingga aktivitas kreatif lainnya, Kelana Healing Space diharapkan menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat dunia batik, ecoprint, dan gaya hidup yang lebih dekat dengan alam.
Kehadiran ruang diskusi tersebut menunjukkan bahwa industri kreatif tidak hanya tentang menghasilkan produk, tetapi juga membangun kesadaran dan pengetahuan.
Ketika Alam Menjadi Sumber Inspirasi
Kisah Batik Cantiang Asasi dan Eikora Ecoprint menjadi bukti bahwa kreativitas dapat tumbuh dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita.
Daun jambu biji, daun ceri, tanaman liar, hingga kulit jengkol yang sering dianggap limbah ternyata mampu berubah menjadi karya bernilai ekonomi tinggi.
Dari Padang Panjang, kedua usaha kreatif ini tidak hanya menghasilkan kain yang indah, tetapi juga membawa pesan penting tentang pelestarian lingkungan.
Karya-karya yang lahir dari tangan Rhesty dan Dila mengingatkan kita semua tentang sentuhan alam selalu menghasilkan keindahan sekaligus bernilai ekonomi tinggi.
Editor: Nanda Bismar
