Close Menu
  • Home
    • About
    • Privacy Policy
    • UMKM
  • Culture
  • To Do
  • Food
  • Travel Tips
  • Services

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Basianyuik in Lubuk Minturun: Cheap Fun on the River in Padang

16/10/2026

Bat & Arrow Padang: Drinks, Food and Saturday Nightlife

10/10/2026

Penny Dining & Bar: Modern Dining with Bold Minangkabau Flavours

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
West Sumatra 360
Friday, October 16 Login
  • Home
    • About
    • Privacy Policy
    • UMKM
  • Culture
  • To Do
  • Food
  • Travel Tips
  • Services
West Sumatra 360
Home»Wisata»Edukasi»Surau Bintungan Tinggi dan 36 Manuskrip Kuno
Edukasi

Surau Bintungan Tinggi dan 36 Manuskrip Kuno

Yoga PrasetyoBy Yoga Prasetyo11/09/2026
Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
Surau Bintungan Tinggi dan 36 Manuskrip Kuno
Surau Bintungan Tinggi
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Surau Bintungan Tinggi di Nagari Padang Bintungan, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, bukan sekadar bangunan tua tempat beribadah.

Surau ini merupakan salah satu jejak penting perkembangan pendidikan Islam tradisional di Minangkabau.

Sekaligus menyimpan puluhan manuskrip kuno yang menjadi bukti bahwa surau pada masa lalu berfungsi sebagai pusat ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kehidupan sosial.

Surau yang berkaitan erat dengan sosok Syekh Abdurrahman atau Syekh Bintungan Tinggi, bahkan tercatat sebagai bangunan cagar budaya Kabupaten Padang Pariaman.

Berdiri ditengah lingkungan masyarakat, Surau Bintungan Tinggi menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada bentuk bangunannya yang sederhana.

Di tempat inilah para murid datang untuk mempelajari ilmu agama, membaca dan menyalin kitab, serta mendalami tradisi keislaman yang berkembang di Minangkabau.

Pada masa kejayaannya, jumlah murid yang belajar bahkan disebut mencapai sekitar ribuan orang yang berasal dari berbagai daerah.

Keberadaan surau menjadi semakin menarik karena keberadaan 36 manuskrip kuno yang pernah digunakan sebagai bahan pembelajaran.

Manuskrip tersebut mencakup Al-Qur’an, tafsir, fikih, nahwu dan sharaf, tauhid, tasawuf, hingga kumpulan teks keislaman lainnya.

Sebagian koleksi tersebut kemudian didigitalisasi melalui program Endangered Archives Programme dari British Library.

Lantas, bagaimana sebenarnya perjalanan Surau Bintungan Tinggi hingga menjadi salah satu peninggalan penting sejarah Islam di Sumatera Barat?

Surau Bintungan Tinggi dan 36 Manuskrip Kuno
Tiang Penyangga Surau Bintungan Tinggi – Photo quran-nusantara.blogspot.com

Surau Bintungan Tinggi dan Sosok Syekh Abdurrahman

Untuk mengetahui lebih dalam, maka harus mengenal sosok yang berada di balik berdirinya lembaga pendidikan tersebut, yaitu Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi.

Dalam sejumlah sumber sejarah lokal dan kajian mengenai surau Minangkabau, Syekh Abdurrahman disebut lahir pada 1827.

Sosoknya berasal dari keluarga ulama dan memiliki hubungan intelektual dengan tradisi keislaman yang berkembang di kawasan Ulakan.

Sejak usia muda, ia belajar agama dan tarekat kepada Syekh Ja’far Thahir Ulakan, yang merupakan bagian dari jaringan pendidikan Syekh Burhanuddin.

Perjalanan pendidikan tersebut menjadi penting karena Ulakan merupakan salah satu pusat perkembangan Islam dan Tarekat Syattariyah di Minangkabau.

Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu, Syekh Abdurrahman kemudian kembali ke Bintungan Tinggi.

Sekitar tahun 1864, sejumlah sumber penelitian menyebut Syekh Abdurrahman mendirikan lembaga pendidikan surau di Bintungan Tinggi.

Surau awal tersebut pada mulanya masih sederhana, namun, dari bangunan sederhana itulah berkembang sebuah pusat pendidikan Islam yang kemudian menarik murid dari berbagai wilayah.

Salah satu laman pemerintah daerah memuat angka 1804 sebagai tahun pendirian, tetapi angka tersebut berbeda dengan sumber penelitian dan kajian manuskrip yang secara konsisten menyebut 1864.

Syekh Abdurrahman sendiri disebut lahir pada 1827, tahun 1804 secara kronologis juga sulit dipadukan dengan biografi tersebut.

Oleh karena itu, tahun 1864 merupakan tahun yang lebih masuk akal dan lebih banyak didukung sumber penelitian.

Surau Sederhana Menjadi Pusat Pendidikan Islam

Pada masa itu, istilah “surau” tidak bisa dipahami hanya sebagai tempat salat seperti yang mungkin dibayangkan orang sekarang.

Dalam tradisi Minangkabau, surau memiliki fungsi yang jauh lebih luas, selain menjadi tempat belajar agama dan mengaji, melainkan juga menjadi ruang diskusi, membentuk karakter, hingga beladiri silat.

Surau juga memiliki hubungan erat dengan tradisi pendidikan Islam yang berkembang di Minangkabau.

Seorang syekh atau tuanku dapat mengajar murid dalam jumlah besar, sementara para murid tinggal di sekitar surau, seperti yang terjadi pula di Bintungan Tinggi.

Menurut penelitian mengenai Surau Bintungan Tinggi, pada masa kejayaannya terdapat sekitar seribu murid yang belajar kepada Syekh Abdurrahman.

Para murid ini dikenal dengan sebutan pakiah, karena jumlahnya sangat banyak, di sekitar surau utama kemudian berdiri sekitar 15 surau kecil yang digunakan sebagai tempat tinggal para murid.

Bintungan Tinggi yang sekarang mungkin terlihat sebagai sebuah kawasan dengan bangunan bersejarah, dahulu merupakan lingkungan pendidikan yang ramai.

Para santri datang dari berbagai daerah, tinggal bersama, belajar, mengaji, dan menjalani kehidupan sehari-hari di sekitar kompleks surau.

Filosofi nama Surau Bintungan Tinggi

Nama Surau Bintungan Tinggi sendiri kemudian melekat kuat dengan nama Syekh Abdurrahman.

Dalam berbagai sumber, sang ulama juga dikenal dengan nama lain sebagai Syekh Bintungan Tinggi, yang kemudian menjadi nama surau tersebut.

Sumber lain menyebutkan Surau Baru dalam British Library, misalnya, mencatat koleksi manuskripnya dengan nama Surau Baru Bintungan Tinggi Collection.

Arsip tersebut menyebut bahwa manuskrip merupakan warisan keluarga Syekh Abdurrahman dan dahulu digunakan sebagai sumber pembelajaran Islam di surau.

Nama yang berbeda ini tidak mengubah hal terpenting, semuanya merujuk pada satu pusat pendidikan Islam yang memiliki peranan penting dalam sejarah Bintungan Tinggi.

Tahun 1908: Surau Lama Digantikan Bangunan yang Lebih Besar

Perjalanan Surau Bintungan Tinggi tidak berhenti pada bangunan pertama, dimana pada tahun 1908, dibangun surau baru yang ukurannya lebih besar.

Pembangunan tersebut dipimpin oleh Tuanku Khatib Koto Baru, yang disebut sebagai arsitek atau tokoh yang dipercaya mengerjakan bangunan tersebut.

Bangunan baru inilah yang kemudian memperlihatkan perpaduan menarik antara arsitektur Islam dan arsitektur tradisional Minangkabau.

Bangunannya menggunakan konstruksi kayu, memiliki atap bertingkat dengan karakter gonjong, serta dihiasi ukiran tradisional.

Salah satu ragam hias yang terkenal adalah aka cino saganggang, motif tumbuhan yang dibuat dalam bentuk stilisasi.

Perpaduan tersebut membuat Surau Bintungan Tinggi bukan hanya penting dari sisi sejarah agama, tetapi juga menarik sebagai peninggalan arsitektur tradisional.

Ukuran bangunan surau sekitar 11 x 11 meter, dengan konstruksi kayu dan bangunan yang ditinggikan dari permukaan tanah sehingga membentuk ruang kolong.

Kemudian pada bagian terdapat tiang utama yang menjadi bagian penting dari struktur bangunan.

Jika diperhatikan lebih dekat, bentuk bangunannya memperlihatkan bagaimana masyarakat Minangkabau mampu menggabungkan identitas lokal dengan nilai-nilai Islam.

Surau Bintungan Tinggi dan 36 Manuskrip Kuno
Manuskrip Surau Bintungan Tinggi – Photo quran-nusantara.blogspot.com

36 Manuskrip Kuno yang Menjadi Harta Karun Surau

Selain sejarah bangunannya, surau Bintungan juga menyimpan 36 manuskrip kuno, dimana Manuskrip-manuskrip tersebut bukan sekadar koleksi benda lama.

Dahulu, naskah-naskah tersebut merupakan “buku pelajaran” yang digunakan dalam proses pendidikan di surau.

British Library mencatat koleksi Surau Baru Bintungan Tinggi terdiri atas 36 berkas manuskrip.

SafetyWing Nomad Insurance - Best for Sumatra Barat Travelers

Isinya sangat beragam, mulai dari tafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an, fikih, tauhid, tasawuf atau tarekat, tata bahasa Arab, hingga kisah-kisah Islam.

Pembagian koleksinya bahkan memperlihatkan betapa luas bidang keilmuan yang dipelajari di surau tersebut.

Dokumentasi yang dilakukan melalui program British Library mencatat antara lain manuskrip tentang nahwu dan sharaf, fikih, tafsir, Al-Qur’an, tasawuf, tauhid, serta berbagai kumpulan teks Islam.

Dengan melihat isi manuskrip tersebut, kita dapat memperoleh gambaran bahwa pendidikan di Surau Bintungan Tinggi tidak hanya mengajarkan dasar-dasar ibadah.

Baca Juga 3 Bangunan Masjid Bersejarah di Pasaman Barat

Tradisi Menulis dan Menyalin Kitab

Menariknya lagi, keberadaan manuskrip tersebut memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan diwariskan sebelum buku cetak mudah diperoleh seperti sekarang.

Para pelajar dan ulama memanfaatkan naskah tulisan tangan sebagai sumber belajar, Sebagian naskah juga memiliki catatan tambahan di sekitar teks, yang dapat memberikan gambaran mengenai proses belajar para pembacanya.

Tradisi seperti ini sangat berharga bagi peneliti karena manuskrip tidak hanya menyimpan isi ajaran, tetapi juga dapat menjadi petunjuk mengenai bagaimana ilmu dipelajari dan diwariskan.

British Library mencatat bahwa koleksi tersebut berasal dari rentang kertas yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-18 hingga awal abad ke-20.

Dalam beberapa manuskrip terdapat tiga bahasa yang digunakan yaitu bahasa Arab, Melayu dan Bahasa Minangkabau.

Dengan demikian, manuskrip Surau Bintungan Tinggi menjadi semacam jendela kecil untuk melihat kehidupan intelektual masyarakat Minangkabau pada masa lampau.

Surau Bintungan Tinggi dan 36 Manuskrip Kuno
Manuskrip Surau Bintungan Tinggi – Photo quran-nusantara.blogspot.com

Makam Syekh Abdurrahman dan Tradisi Ziarah

Jika berkeliling di sekitar surau maka kamu akan melihat sebuah makam atau gobah dari pendiri surau yaitu Syekh Abdurrahman.

Sosok pendiri surau tersebut, disebut wafat pada 1923 dan dimakamkan di kompleks yang berdekatan dengan surau.

Makamnya hingga kini masih menjadi tempat ziarah, terutama berkaitan dengan tradisi Basafa yang dilakukan oleh jamaah Tarekat Syattariyah menuju Ulakan.

Tradisi ini memperlihatkan bahwa pengaruh Syekh Abdurrahman tidak berhenti ketika beliau meninggal.

Jejaknya tetap hidup melalui hubungan antara surau, makam, murid, dan tradisi keagamaan masyarakat.

Beberapa sumber yang menuliskan tahun wafat berbeda, yakni 1927, namun untuk penulisan sejarah populer, tahun 1923 lebih konsisten dengan kajian terbaru.

Surau Bintungan Tinggi dan Tradisi Basafa

Salah satu alasan mengapa kawasan ini tetap memiliki hubungan kuat dengan masyarakat hingga sekarang adalah tradisi ziarah.

Dalam konteks Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat, bulan Safar memiliki tempat khusus.

Peziarah yang menuju kompleks makam Syekh Burhanuddin di Ulakan juga mengenal Bintungan Tinggi sebagai salah satu lokasi penting dalam perjalanan spiritual mereka.

Dengan demikian, Surau Bintungan Tinggi tidak hanya memiliki nilai sejarah sebagai bangunan tua, namun juga menjadi bagian dari tradisi keagamaan.

Inilah yang membedakan banyak situs sejarah keagamaan dengan bangunan bersejarah biasa.

Surau ini bukan sekadar benda mati yang ditinggalkan masa lalu, melainkan tempat yang masih memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat.

Menjadi Cagar Budaya Padang Pariaman

Nilai sejarah Surau Bintungan Tinggi akhirnya mendapatkan pengakuan dalam kerangka pelestarian cagar budaya.

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman memasukkan Surau Gadang Bintungan Tinggi dan Makam Syekh Abdul Rahman sebagai bangunan cagar budaya.

Status tersebut penting karena keberadaan bangunan tidak hanya dinilai dari usianya, tetapi juga dari nilai sejarah, budaya, dan kekayaan arsitektur.

Mengapa Surau Bintungan Tinggi Layak Dikunjungi?

Tempat ini cocok untuk mereka yang ingin wisata religi di Padang Pariaman, karena berhubungan dengan sejarah ulama, pendidikan Islam, arsitektur, manuskrip, dan tradisi keagamaan.

Kunjungan ke surau juga akan terasa lebih bermakna jika dilakukan dengan memahami konteks sejarahnya terlebih dahulu.

Pengunjung dapat memperhatikan bagaimana konstruksi kayu, ruang ibadah, dan lingkungan sekitar menjadi bagian dari cerita panjang sebuah pusat pendidikan Islam.

Jika melakukan kunjungan, pengunjung sebaiknya juga menghormati suasana ibadah dan aktivitas masyarakat setempat.

Surau adalah ruang keagamaan yang masih memiliki fungsi sosial dan spiritual, bukan sekadar objek wisata.

Editor: Nanda Bismar
Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram LinkedIn Copy Link
Yoga Prasetyo
  • Website
  • Instagram

Related Posts

3 Pondok Pesantren Favorit Orang Tua di Kota Padang

15/09/2026

5 Kerajinan Tangan Khas dari Sumatera Barat

12/09/2026

7 Masjid dengan Arsitektur Unik & Megah di Sumatera Barat

09/09/2026
Add A Comment

Comments are closed.

Top Posts

5 Things To Do in Mentawai Islands

03/12/2022

5 Kebun Satwa di Sumatera Barat yang Wajib Kamu Kunjungi

04/12/2022

6 Cafe Dengan Pemandangan Samudera Hindia di Kota Padang

05/12/2022

5 Restoran Korea Yang Wajib Kamu Coba di Padang

06/12/2022

7 Tempat Jalan Santai di Pusat Kota Padang

07/12/2022

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Most Popular

5 Things To Do in Mentawai Islands

03/12/2022

5 Kebun Satwa di Sumatera Barat yang Wajib Kamu Kunjungi

04/12/2022

6 Cafe Dengan Pemandangan Samudera Hindia di Kota Padang

05/12/2022
Our Picks

Basianyuik in Lubuk Minturun: Cheap Fun on the River in Padang

16/10/2026

Bat & Arrow Padang: Drinks, Food and Saturday Nightlife

10/10/2026

Penny Dining & Bar: Modern Dining with Bold Minangkabau Flavours

10/10/2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

Facebook X (Twitter) Instagram
  • About
  • Privacy Policy
  • Our Team
© 2026 WestSumatra360.com. Designed by Hendri Simon.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?