Seiring dengan perkembangan zaman, beberapa kuliner khas Sumatera Barat mulai sulit untuk ditemukan di kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan kuliner pada umumnya seperti sate padang, aneka rendang, ataupun camilan populer seperti keripik balado, beberapa kuliner khas justru semakin langka.
Kuliner khas seperti dadiah, palai bada, lompong sagu, katupek sipuluik, dan sarikayo adalah beberapa diantara yang saat ini mulai menghilang.
Sebagian masih dibuat oleh penjual tertentu, tetapi tidak lagi hadir setiap hari di banyak tempat dan kadang baru muncul ketika moment penting seperti perayaan adat.
Istilah “mulai sulit ditemukan” bukan berarti makanan tersebut sudah punah, justru sebaliknya, kelima kuliner tersebut masih bisa dicicipi di Sumatera Barat.
Hanya saja, keberadaannya tidak semudah makanan lainnya yang sudah menjadi bagian dari industri rumah makan dan pariwisata modern.
Beberapa makanan membutuhkan bahan tertentu yang tidak selalu mudah diperoleh sehingga menjadi alasan kuliner tersebut mulai langka.
Sebagian bahkan harus melalui proses pembuatan yang cukup panjang dan membutuhkan keterampilan khusus.
Terdapat pula yang secara tradisional hanya dibuat untuk momentum tertentu sehingga tidak diproduksi setiap hari.
Berikut adalah lima kuliner khas Sumatera Barat yang mulai langka namun masih bisa ditemukan pada moment tertentu.
1. Dadiah
Dadiah sering juga disebut sebagai yogurt khas Minangkabau, karena memang secara visual menyerupai dengan rasa sedikit asam.
Terbuat dari susu kerbau yang difermentasi secara alami di dalam ruas bambu sehingga menjadi ciri khas tersendiri.
Proses fermentasi membutuhkan waktu, sehingga makanan ini tidak bisa dibuat seperti produk minuman modern yang tinggal diproduksi massal menggunakan mesin.
Hasil akhirnya berupa makanan dengan tekstur lembut dan rasa asam yang khas dan sangat pas jika disantap bersama bersama ampiang.
Lebih dikenal juga dengan ampiang dadiah dengan siraman gula aren kental sehingga menghasilkan perpaduan rasa asam, manis, dan gurih.
Menariknya, bambu bukan sekadar wadah tradisional untuk mempercantik penyajian, proses fermentasi di dalam bambu menjadi bagian penting dari karakter dadiah.
Dadiah sangat jarang ditemukan diluar Sumatera Barat, bahkan hanya tersedia di beberapa daerah, sehingga mulai langka.
Sebuah sumber mengenai kuliner langka Minangkabau dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyebut bahwa kuliner seperti dadiah termasuk makanan yang tidak banyak ditemukan di restoran pada umumnya.
Jika menemukan ampiang dadiah saat berwisata ke Sumatera Barat, jangan buru-buru menganggapnya makanan biasa.
Kamu sedang mencicipi salah satu bentuk fermentasi tradisional yang sudah diwariskan lintas generasi.
2. Palai Bada
Palai Bada terdengar seperti tidak familiar jika dibandingkan dengan kuliner khas Sumatera Barat lainnya.
Merupakan makanan tradisional Minangkabau yang menggunakan bada atau ikan teri basah sebagai bahan utama.
Ikan tersebut dicampur dengan bumbu, kelapa parut, cabai, dan rempah, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang.
Setelah itu, palai dimasak dan dipanggang di atas bara api sehingga menghasilkan aroma khas yang sulit digantikan oleh metode memasak modern.
Sekilas memang mirip pepes ikan, namun terdapat perbedaan yang membuat palai bada memiliki karakter tersendiri.
Seperti proses pemanggangan setelah dibungkus memberikan aroma asap dan daun pisang yang kuat.
Aroma ikan, kelapa, cabai, dan daun pisang panggang langsung keluar bersamaan, sederhana, tetapi justru di situlah daya tariknya.
RRI pada 2024 bahkan menemukan seorang penjual yang telah menjual palai selama sekitar 20 tahun dan memperoleh resepnya secara turun-temurun dari keluarga.
Namun, keberadaannya memang mulai sulit ditemui, dibandingkan rendang atau gulai ayam, palai bada tidak banyak menjadi menu standar rumah makan Padang.

3. Lompong Sagu
Kalau kamu penggemar jajanan tradisional, lompong sagu mungkin menjadi salah satu kuliner yang sayang sekali jika dilewatkan.
Penganan ini dibuat dari olahan tepung sagu, pisang kepok, santan, kelapa, dan gula aren, kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang di atas bara api.
Hasilnya adalah camilan nikmat berwarna kecokelatan dengan tekstur kenyal dan rasa manis-gurih.
Pengalaman menikmatinya semakin sempurna ketika baru keluar dari panggangan, aroma daun pisang dan bara berpadu dengan aroma pisang, kelapa, dan gula aren.
Oleh karena itu lompong sagu biasanya disantap selagi hangat, ditemani segelas teh atau kopi sebagai pelengkap.
Dahulu lompong sagu sangat mudah ditemukan, namun sekarang harus mencari di beberapa tempat yang masih menyediakan camilan tersebut.
Dari informasi yang dihimpun oleh tim West Sumatra 360, bahwa dahulu makanan ini mudah ditemukan di pasar tradisional, bahkan dijajakan dari rumah ke rumah.
Kini keberadaannya mulai jarang karena perubahan tradisi dan gaya hidup masyarakat, serta banyaknya jenis camilan modern.
Sumber lain juga mencatat bahwa lompong sagu biasanya lebih mudah ditemukan pada bulan Ramadan, acara adat, tahunan, atau festival budaya.
Alasan lain yang membuat makanan ini semakin sulit ditemui adalah proses memanggangnya membutuhkan keahlian khusus.
Setelah api ketika memanggang lompong tidak boleh langsung mengenai daun pisang, karena bisa gosong sementara bagian dalam belum matang sempurna.
Jadi, di balik kue yang terlihat sederhana, terdapat teknik tradisional yang ikut menentukan hasil akhirnya.
Baca Juga 5 Makanan Khas Sumatera Barat yang Dibungkus Daun Pisang
4. Katupek Sipuluik
Ketika mendengar kata Katupek atau ketupat, mungkin yang langsung terbayang adalah ketupat beras.
Di Sumatera Barat, terdapat dua versi yang berbeda, selain ketupat beras, terdapat juga katupek sipuluik atau ketupat ketan.
Bahan dasarnya adalah beras ketan yang dimasak dan dibungkus dengan cara khas ketupat, teksturnya lebih pulen dan lengket dibandingkan ketupat nasi biasa.
Katupek sipuluik sebenarnya masih memiliki tempat dalam tradisi kuliner Minangkabau, terutama ketika Lebaran, namun tidak banyak yang menyediakan pada hari biasa.
Sebuah laporan mengenai katupek sipuluik menyebut makanan ini sudah sulit ditemukan dan hanya dibuat oleh sedikit penjual di beberapa lokasi.
Bahkan dalam penelusuran tim West Sumatra 360 di kawasan GOR H. Agus Salim Padang pada 2026, hanya ditemukan satu pedagang yang menjualnya di lokasi tersebut.
Kenapa katupek sipuluik menarik dicoba? Karena makanan ini merupakan salah satu versi lain dari ketupat yang lazim dimakan di Sumatera Barat.
Katupek sipuluik biasanya hadir bersama makanan pendamping atau aneka sajian kue khas lebaran, citarasa manis kue dan legit dari ketupat membuatnya semakin istimewa.
5. Sarikayo Minangkabau
Kuliner terakhir yang juga mulai langka yaitu Sarikayo Minang dengan tampilan yang lebih sederhana diantara yang lain diatas.
Warnanya kecokelatan, teksturnya lembut, dan sekilas mengingatkan pada puding, namun lebih sedikit berserat.
Nama “sarikayo” dalam konteks kuliner Minangkabau merujuk pada penganan tradisional dengan tekstur lembut seperti puding.
Warnanya dapat berasal dari penggunaan gula merah, sementara beberapa versi memiliki warna berbeda sesuai bahan yang digunakan.
Sarikayo biasanya lebih nikmat jika disantap bersama ketan, erpaduan ketan yang gurih dan lembutnya sarikayo menciptakan rasa yang sederhana tetapi khas.
Sebuah sumber mengenai kuliner Minangkabau mencatat bahwa pada hari-hari biasa sarikayo relatif sulit ditemukan dan lebih sering muncul dalam acara adat.
Hal tersebut tentu saja menunjukkan satu pola yang sama dengan beberapa kuliner tradisional lainnya.
Ketika sebuah makanan hanya dibuat untuk acara tertentu, produksinya otomatis tidak sebanyak makanan yang memiliki pasar harian.
Kenapa Kuliner Minang yang Dulu Populer Sekarang Mulai Sulit Ditemukan?
Kalau diperhatikan, kelima makanan diatas memiliki fenomena yang hampir sama, bukan karena rasa ataupun bahan yang mahal, namun beberapa faktor berikut dapat menjelaskan.
1. Proses Pembuatan dengan Teknik Khusus
Dadiah membutuhkan fermentasi, Palai bada harus dibumbui, dibungkus, lalu dipanggang, sedangkan Lompong sagu harus dipanggang dengan teknik tertentu.
Tidak hanya proses pembuatan yang unik, namun makanan tradisional seperti diatas membutuhkan waktu dan ketelitian.
Sementara makanan modern sering kali menawarkan proses produksi yang lebih cepat dan mudah distandardisasi.
2. Tidak Tersedia Setiap Hari
Sebagian kuliner tradisional hanya muncul ketika hari atau momen tertentu seperti Ramadan, Lebaran, acara adat, atau festival.
RRI mencatat pola tersebut pada sejumlah kue tradisional Minangkabau yang mulai langka.
Akibatnya, wisatawan yang datang di hari biasa belum tentu menemukan makanan yang mereka cari.
3. Persoalan Regenerasi
Resep tradisional biasanya diwariskan melalui keluarga, jika generasi berikutnya tidak tertarik meneruskan, resep bisa berhenti pada satu generasi.
Beberapa faktor diatas menjadi salah satu alasan buku “Kuliner Langka Minangkabau” dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menjadi penting.
Buku tersebut secara khusus mendokumentasikan berbagai masakan Minang yang langka, termasuk cara pembuatannya.
4. Perubahan Selera Masyarakat
Masyarakat sekarang memiliki pilihan makanan yang jauh lebih banyak dan rasa yang juga bervariasi.
Jajanan modern, makanan cepat saji, dessert kekinian, hingga berbagai produk viral dari media sosial bersaing mendapatkan perhatian konsumen.
Namun, perubahan selera bukan berarti kuliner lama harus kalah, justru bisa menjadi kesempatan untuk memperkenalkannya kembali dengan cara yang lebih kekinian.
Demikianlah beberapa jenis kuliner Khas Sumatera Barat yang mulai langka ditemukan pada hari-hari biasa.
Jika kamu tertarik mencoba tidak ada salahnya untuk datang pada moment tertentu dan rasakan lezatnya kuliner legendaris.
Merawat kuliner tradisional tidak hanya soal rasa, namun juga merawat nilai sejarah dan kebudayaan yang terkandung untuk generasi mendatang.
Editor: Nanda Bismar
