Close Menu
  • Home
    • About
    • Privacy Policy
    • UMKM
  • Culture
  • To Do
  • Food
  • Travel Tips
  • Services

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Basianyuik in Lubuk Minturun: Cheap Fun on the River in Padang

16/10/2026

Bat & Arrow Padang: Drinks, Food and Saturday Nightlife

10/10/2026

Penny Dining & Bar: Modern Dining with Bold Minangkabau Flavours

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
West Sumatra 360
Friday, October 16 Login
  • Home
    • About
    • Privacy Policy
    • UMKM
  • Culture
  • To Do
  • Food
  • Travel Tips
  • Services
West Sumatra 360
Home»Wisata»Budaya»Tradisi Ma Apam dan Sambareh di Bulan Rajab
Budaya

Tradisi Ma Apam dan Sambareh di Bulan Rajab

Oki SaputraBy Oki Saputra02/02/2023
Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
Photo: www.gurusiana.id Mutia Khaira, S.Pd.I, M.Pd
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Bulan Rajab merupakan bulan yang ada di kalender hijriah. Sesuai dengan pepatah minang yang yaitu Adaik Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.

Yang mengandung adat di Minangkabau tidak dapat dipisahkan dari Islam atau selalu beriringan.

Ada satu tradisi yang unik terkait kebiasaan masyarakat Minangkabau di Bulan Rajab.

Yaitu tradisi memasak makanan yang dikenal dengan Ma Apam/Sambareh yang dilakukan Masyarakat Minang.

Di Pariaman makanan ini disebut dengan Sambareh (Sarang Bareh), sedangkan di Pasaman ini disebut dengan Apam.

Sambareh (Pariaman)

Di Pariaman dalam menyambut bulan ke 7 hijriah yaitu bulan Rajab yang sering dikatakan sebagai bulan kebaikan dan kemuliaan, ada makanan yang khas yaitu sambareh.

Makanan ini bukan hanya sebatas cemilan, tapi termasuk ke dalam tradisi mandoa sambareh yang dilaksanakan di bulan Rajab.

Menurut sejarahnya tradisi ini di tinggalkan oleh Syekh Burhanuddin di Ulakan, yang di bawa dari Aceh.

SafetyWing Nomad Insurance - Best for Sumatra Barat Travelers

Bagi masyarakat yang mengadakan mandoa (syukuran) sambareh terlebih dahulu menyediakan sambareh di rumahnya.

Juga makanan pada umumnya seperti nasi dan lauk pauk yang akan disantap diacara acara mandoa.

Setelah menyantap makan tersebut dan berdoa, lalu tuan rumah menyuguhkan sambareh yang telah diisi kuah ke hadapan Tuanku (ulama) dan tamu yang hadir sebagai makan penutup mandoa.

Baca Juga Ronggeng Pasaman: Sejarah dan Perkembangan Warisan Budaya dari Nagari Muaro Kiawai

Ma Apam (Pasaman)

Memasak apam merupakan tradisi masyarakat Pasaman yang dilaksanakan dalam setahun sekali, tepatnya saat bulan Rajab.

Saat memasuki bulan Rajab, masyarakat Pasaman mulai melaksanakan tradisi ma apam baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri.

Mereka lebih memilih ruang terbuka, karena asap yang ditimbulkan dari bahan bakar alami berupa daun kepala kering cukup banyak.

Tradisi ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar sesama sekaligus menjaga kelestarian budaya.

Secara sejarahnya tradisi maapam ini sudah ada semenjak zaman nenek moyang dahulu, yang cara pelaksanaan dalam memasaknya ialah kaum ibu-ibu.

Dan tradisi ini sudah menjadi suatu kebiasaan yang terus dilakukan secara turun temurun.

Sehingga sampai saat ini masih terjaga dan terus dilaksanakan sampai sekarang di Pasaman.

Kabupaten Pasaman Barat pernah memecahkan rekor dunia melalui kegiatan Pasaman Barat Maapam dengan tungku terbanyak, 1.704 tungku.

Photo: Instagram @myhealthyfebee

Cara memasak dan panyajian

Bahan-bahan yang digunakan sangat mudah di dapat yaitu tepung beras, santan kelapa, garam, gula dan pemanis alami seperti aren. Setelah semua bahan dicampur selanjutnya di aduk hingga merata.

Kemudian dalam memasaknya menggunakan kuali kecil yang awalnya di sangrai dengan serbuk kelapa barulah dimasak di tungku.

Terakhir ditutup dengan penutup panci hingga matang. Cara penyajianya beragam bisa menggunakan kuah dan bisa menggunakan campuran gula dan serbuk kelapa untuk disantap.

Makanan ini wajib kamu coba karena rasanya yang enak dan menggugah selera.

Makanan ini sangat mudah untuk dimasak, jadi kamu tidak perlu menunggu bulan Rajab untuk menikmatinya.

Kamu bisa memasaknya sendiri dirumah dan rasakan kenikmatan makanan satu ini.

Nah, bagaimana tradisi bulan Rajab didaerah kamu? Silahkan bagikan dikolom komentar dibawah.

Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram LinkedIn Copy Link
Oki Saputra
  • Website
  • Instagram

Related Posts

Adat and Faith: How Divorce Works in Minangkabau Culture

17/09/2026

Friday in West Sumatra: What Every Visitor Should Know

21/08/2026

Mangopi: The Living Coffee Tradition of Minangkabau Society

25/06/2026
Add A Comment

Comments are closed.

Top Posts

5 Things To Do in Mentawai Islands

03/12/2022

5 Kebun Satwa di Sumatera Barat yang Wajib Kamu Kunjungi

04/12/2022

6 Cafe Dengan Pemandangan Samudera Hindia di Kota Padang

05/12/2022

5 Restoran Korea Yang Wajib Kamu Coba di Padang

06/12/2022

7 Tempat Jalan Santai di Pusat Kota Padang

07/12/2022

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Most Popular

5 Things To Do in Mentawai Islands

03/12/2022

5 Kebun Satwa di Sumatera Barat yang Wajib Kamu Kunjungi

04/12/2022

6 Cafe Dengan Pemandangan Samudera Hindia di Kota Padang

05/12/2022
Our Picks

Basianyuik in Lubuk Minturun: Cheap Fun on the River in Padang

16/10/2026

Bat & Arrow Padang: Drinks, Food and Saturday Nightlife

10/10/2026

Penny Dining & Bar: Modern Dining with Bold Minangkabau Flavours

10/10/2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

Facebook X (Twitter) Instagram
  • About
  • Privacy Policy
  • Our Team
© 2026 WestSumatra360.com. Designed by Hendri Simon.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?